Dulu sewaktu Bapak masih ada, saya pernah tanya padanya apa jenis durian yang pohonnya menjulang tinggi di samping rumah. Ia pun langsung bercerita panjang lebar.
"......Iki mbiyen sing nandur Mbah Kakung. Jare Mbah kakung mbiyen jenenge duren Tumbu. Durene dempok, bunder ngligir-ngligir (kelihatan bentuk ruas buahnya). Kulite ijo, ning isine kuning daginge kandel rasane legi pait......" Ujarnya waktu itu.
Saya masih ingat betul apa yang ia katakan. Ia selalu berpesan setiap mau buka duren.
"...Ojo akeh-akeh ndak mendem. Mabuk ngko....."
"...Ojo akeh-akeh ndak mendem. Mabuk ngko....."
Tapi biasanya belum selesai ia bicara, tanganku sudah nyelonong ambil duren yang baru dibukanya.
Nama "Duren tumbu" sendiri entah aslinya jenis apa saya pun tidak tahu. Mungkin karena bentuknya yang seperti "tumbu" (wadah yang terbuat dari bambu berbentuk kotak biasanya ada tutupnya). Jadi dinamakan duren tumbu. Ya saya juga ikut-ikutan menyebutnya duren tumbu.
Soal rasa saya tidak ingin menyebutkan enak atau tidak. Karena lidah penikmat nya biasanya beda-beda. Ada yang suka manis, ada pula yang suka manis-manis pahit.
Tapi yang dikatakan bapak dulu itu betul. Duren Tumbu ini betul-betul manis-manis pahit dagingnya juga tebal. Selain itu juga sangat legit. Kulitnya hijau dan warna buah nya kuning.
Waktu kecil dulu setiap mendengar suara "krosaak blug" dari samping rumah, langsung lari pertanda ada duren yang jatuh. Pernah pula suara "krosaak blug" dikira duren jatuh. Eh ternyata "Cumplung" apes....apes.... 😂😂😂

No comments:
Post a Comment